Desa Kebonharjo

Kecamatan Samigaluh
Kabupaten Kulon Progo - Daerah Istimewa Yogyakarta

Artikel

EKSTRA KEMARAMAN DENGAN BERMAIN EGRANG BERSAMA SD MUHAMMADIYAH JARAKAN

Administrator

17 Januari 2025

167 Kali Dibaca

Kamis Pon, 16 Januari 2025 dengan memakai baju adat Jawa, permainan egrang menjadi kegiatan pada ekstra kemataraman di SD Muhammadiyah Jarakan yang berada di Padukuhan Jarakan, Kebonharjo, Samigaluh, Kulon Progo. Egrang merupakan salah satu permainan tradisional khas Indonesia yang juga digolongkan sebagai bagian dari olahraga tradisional. Tatik Purwantari , S.Pd selaku pembimbing ekstra kemataraman menginfokan pada anak-anak untuk membuat egrang di rumah dengan ukuran  panjang 2,5 cm dan pijakan lebar 20 cm dan tinggi dari bawah ke pijakan 50 cm dari bambu. 
Engrang merupakan permainan tradisional dengan memanfaatkan dua pasang tongkat bambu panjang yang diberi tempat pijakan kaki. Cara memainkan engrang pada dasarnya cukup sederhana, yakni dengan cara menaiki tongkat bambu tersebut kemudian pemainnya diminta untuk berjalan dengan menggunakan kaki egrang. Namun hal tersebut tentu tidak mudah untuk dilakukan sebab para pemainnya harus memiliki kesimbangan yang baik.
Permainan egrang termasuk permainan tradisional yang bisa mendatangkan banyak manfaat positif bagi seseorang. Misalnya saja untuk melatih keberanian, ketekunan, kesabaran, hingga melatih kekuatan dan keseimbangan fisik. Sebelum bermain egrang dimulai, guru memberi penjelasan  tentang permainan egrang disebut sebagai salah satu tradisi yang berasal dari Lampung dengan nama terompang pancung. Namun engrang tidak saja dapat ditemukan di Lampung namun juga dapat ditemukan pada beberapa daerah lain di Indonesia. Misalnya saja di Sumatera Barat, engrang dikenal dengan sebutan tengkak (pincang), kemudian Bengkulu menyebutnya sebagai ingkau (sepatu bambu), wilayah Jawa disebut sebagai jangkungan,  dan di Kalimantan Barat disebut batungkau. Permainan egrang bisa dilakukan di lapangan luas. 

Permainan atau olahraga tradisional ini memiliki makna yang kuat dalam  permainan ini harus dimainkan dengan niat yang kuat. Saat kaki sudah dipijakan bambu, kemudian mencondongkan badan ke depan untuk berjalan maka sang pemain tidak boleh ragu-ragu. Pemain harus berjalan cepat supaya seimbang dan tidak jatuh, jika terjatuh akan terasa sakit. Ini sama halnya dengan kehidupan. Ketika kita sudah mengambil suatu keputusan, kita harus bertekad dan berkomitmen untuk menyelesaikannya dan tidak boleh ragu-ragu.

Nilai-nilai seperti sportifitas, kerja keras, keuletan sangat kental tercermin dalam nilai budaya pada permainan Egrang ini. Nilai sportifitas tercermin pada pemain yang bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, dan pemain tidak berbuat curang selama permainan berlangsung. Nilai kerja keras tercermin dari semangat si pemain itu sendiri, yang berusaha agar bisa berjalan dengan cepat dan stabil hingga sampai ke tempat yang sudah ditentukan. Kemudian, nilai keuletan dapat terlihat pada proses pembuatan tongkat kayu yang akan digunakan untuk Egrang, di mana bambu harus dibuat sebaik mungkin supaya tidak patah atau rusak ketika dinaiki oleh pemain.
SD Muhammadiyah Jarakan membudidayakan permainan Egrang agar  permainan tradisional ini tidak punah. Untuk kegiatan ekstrakurikuler kemataraman ke depannya dengan berbagai permainan seperti Gasing, Petak Umpet, Gobak Sodor, dan sebagainya. Permainan tradisonal harus dilestarikan sebagai kearifan lokal jangan sampai punah.

Penulis 
Tatik Purwantari, S.Pd

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Statistik Desa

Aparatur Desa

Lurah

SUGIMO, S.IP

Carik

DWI BUDIATUN, S.Pd,Si

Panata Laksana Sarta Pangripta

HERI WIDODO, SE

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Desa Kebonharjo

Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, 34

Transparansi Anggaran

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan

Lokasi Kantor Desa

Latitude:-7.706302996702812
Longitude:110.15314221382143

Desa Kebonharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo - Daerah Istimewa Yogyakarta

Buka Peta

Wilayah Desa