Penyakit antraks bersumber dari hewan seperti sapi, kambing, domba, kerbau, dan kuda yang disebabkan oleh bakteri bacillus anthracis tetapi tidak menular dari manusia ke manusia. Antraks bisa ditularkan kepada manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang terjangkit antraks, mengkonsumsi daging hewan yang telah terkontaminasi atau menghirup spora dari bakteri penyebab antraks. Apabila manusia mengindap penyakit antraks dengan gejala keropeng hitam pada kulit dapat diobati melalui layanan kesehatan primer, puskesmas terdekat.
Beberapa gejala yang dapat diamati jika hewan peliharaan kena antraks meliputi : keluar darah dari lubang kumlah menyebabkan spora antraks menyebar, hewan mati mendadak kadang-kadang terlihat seperti keracunan yang berlanjut kematian. Hewan yang terjangkit antraks tidak boleh disembelih karena spora antraks akan menyebar melalui darah yang keluar. Konsumsi hewan yang terkena antraks dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah paparan terhadap penyakit antraks antara lain:
- Menggunakan pelindung tubuh (sarung tangan dan alas kaki tertutup) jika melakukan kontak langsung dengan hewan yang diduga terjangkit penyakit antraks.
- Apabila akan membeli daging untuk dikonsumsi pastikan daging berasal dari hewan yang di potong di RPH ( Rumah Pemotongan Hewan) dengan kriteria ASUH ( Aman, Sehat, Utuh dan Halal).
- Saat mengolah daging, pastikan daging dimasak hingga benar-benar matang hingga suhu 120 derajat celcius sebelum dikonsumsi.
- Segera ke Puskesmas jika anda atau orang di sekitar anda mengalami gejala keropeng hitam pada kulit.
- Melaporkan jika ada hewan yang sakit atau mati kepada dinas terkait.
- Melaporkan ke pihak berwenang jika ada penjualan daging berasal dari hewan sakit atau mati