You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Kalurahan KEBONHARJO

Kap. Samigaluh, Kab. Kulon Progo, Prov. DI Yogyakarta
Info

Sejarah Desa


Sejarah Desa

Sejarah Desa Kebonharjo

Setiap Desa atau daerah pasti memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminan dari karakter dan pencirian khas tertentu dari suatu daerah. Sejarah temurun dan dihubungkan dengan tempat tertentu yang dianggap keramat.

Sehingga mitos dan dongeng tersebut ciri khas tersendiri yang merupakan identitas dari desa, ini kami tuangkan dalam kisah di bawah ini.

  1. Asal Usul Desa Kebonharjo

Pada awal abad 18 pasca perang Diponegoro, setelah Perang Diponegoro dikalahkan dengan licik oleh Belanda. Pada saat itu banyak pengikut Pangeran Diponegoro yang setia yang kemudian lari menyelamatkan diri dari kejaran Belanda. Diantara mereka ada sepasang prajurit yang kemudian dikenal dengan nama Ni Rengkak dan Ki Rengkak. Ni Rengkak dan Ki Rengkak kemudian membabat alas yang kemudian memyebar ke wilayah yang kini disebut Dangsambuh, Kedunggupit, Kaliduren dan Jeringan.

Ilustrasi https://www.liputan6.com/regional/read/2495121/daftar-hobi-pangeran-diponegoro-dari-catur-sampai-kretek

Namun setelah meninggal KI Rengkak kemudian dibawa pulang keluarga dan saudaranya ke Dungringin (Tuk Arjo, Purworejo), karena dari daerah itulah sebenarnya Ni Rengkak dan Ki Rengkak berasal, sedangkan Ni Rengkak tetap berada di “Kleben” hingga akhir hayatnya. Kemudian beliau dimakamkan di Gumawang, Kleben. Konon ada sebuah pesan yang ditulis Ni Rengkak untuyk warga Kleben (sekarang Kebonharjo), bahwa yang berhak dan wajib memperbaiki atau mengganti makam Ni Rengkak hanya Lurah Kleben (sekarang Kebonharjo)

Tidak jauh dari makam Ni Rengkak (± 500m) tumbuh sebuah pohon Sana yang kini usianya sudah ratusan tahun. Menurut kisahnya, Pohon Sana itu berasal dari tiang penyangga “Talang” (pipa dari bambu) yang ditancapkan oleh Ni Rengkak yang kemudian tumbuh hingga kini.

Dibawah Pohon Sana ada sebuah telaga kecil dengan nama Dung Sana. Di tempat itulah bersemayam Den Bagus Bul yang kini diyakini masyarakat sebagai penguasa ghaib di sini

(Nara sumber : Bapak Samidjo.ST dan Bp. Marto Sugiharjo).

  1. Legenda Ki Sosemito (Asal usul Tayub)

Pada awal abad 19 di daerah Kleben muncul seorang tokoh sakti bernama Ki So Mito. Beliau adalah seorang pejuang yang berasal dari daerah Ngaran, Kaligesing, Purworejo. Pada saat itu Ki So Mito dikenal sangat sakti. Ki So Mito kemudian memperistri salah satu cucu Ni Rengkak, dan dikaruniai 6 orang putra, salah satu putrinya kemudian menikah dengan Ki Rekso Wilaga, Lurah I di daerah Kleben.

Suatu Ketika terjadi sebuah wabah penyakit ganas (Pagblug-jw) di wilayah Kleben. Dengan kesaktian yang dimilikinya kemudian Ki So Mito menemui dua pasangan ghaib di wilayah itu, yaitu Den Bagus Bul yang bersemayam di Dung Sana dan Den Bagus Lengser yang bersemayam di Kalipakel. Kedua penguasa itu (Den Bagus Bul dan Den Bagus Lengser) berjanji akan menjaga keselamatan dan kesejahteraan Kleben dengan syarat tiap tahun di “ Kleben” digelar Merti Desa dengan nanggap tayub (tledek/ ronggeng). Adapun gending untuk persembahan bagi Den Bagus Bul adalah Selo Jantur dawah rangu-rangu sedang persembahan bagi Den Bagus Lengser adalah Gending Sureng rana.

Kemudian Ki Rekso Wilogo menjabat sebagai Lurah I (saat itu masih bernama Bekel), Ki So Mito memerintahkan putra menantunya itu untuk memenuhi permintaan Den bagus Bul dan Den Bagus Lengser. Bahkan hingga sekarang tradisi menggelar/ nanggap tayub ini masih dilakukan masyarakat Desa Kebonharjo. Seluruh masyarakat percaya, bila tradisi ini ditinggalkan akan menimbulkan bencana/ malapetaka di Desa Kebonharjo. (Sumber Bp. MartoSugiharjo).

  1. Sejarah Pemerintahan Desa

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti sistematika Pemerintahan di Desa Kebonharjo. Hanya ada informasi bahwa pada jaman Belanda (± 1930) wilayah ini dikenal dengan istilah Kebekelan Kleben (setara dengan Lurah) dengan bekel yang I Ki Reksa WIlaga.

Ki Reksa Wilaga merupakan menantu dari Ki So Mito. Pada masa pemerintahan KI Padmo Sukarno (menentu KI Reksa Wilaga)

 

Kebekelan dibagi dalam 5 kelompok masyarakat. Tiap kelompok masyarakat dipimpin oleh seorang Kawituwo (Tetua-Ketua). Baru pada pemerintahan Lurah ke 3, Kartowiryo kemudian nama Kleben menjadi kebonharjo, dan Bekel menjadi Lurah.

Pada perkembangan berikutnya Kelurahan Kebonharjo berubah menjadi Desa dan kebekelan berubah menjadi Pedukuhan/Dusun. Seiring dengan perkembangan jaman, wilayah Kebonharjo kemudian terbagi dalam 10 Pedukuhan/ Dusun yaitu:

  1. Pedukuhan Gowok
  2. Pedukuhan Jarakan
  3. Pedukuhan Kaliduren
  4. Pedukuhan Kedunggupit
  5. Pedukuhan Jeringan
  6. Pedukuhan Pringtali
  7. Pedukuhan Pelem
  8. Pedukuhan Gebang
  9. Pedukuhan Kleben
  10. Pedukuhan Dangsambuh

Dari masa berdiri hingga sekarang Desa Kebonharjo telah mengalami beberapa pergantian Lurah atau Kepala Desa, mereka adalah:

  1. Lurah atau Bekel Rekso Wilogo (……-1945)
  2. Lurah Padmo Sukarno           (1945-1950)
  3. Lurah Saman Kartowiryo (1951-1975)
  4. Lurah Sastro Prayitno           (1976-1995)
  5. Lurah Pangat Purwadi           (1996-2003)
  6. Lurah Sukadiya                          (2004-2014)
  7. Rohmad Ahmadi, SIP           (2015-sekarang)
Bagikan artikel ini:

APBDes 2021 Pelaksanaan

Rp1,997,259,904 Rp2,312,148,951
86.38%
Rp1,663,688,504 Rp2,405,518,370
69.16%
Rp113,369,419 Rp133,369,419
85%

APBDes 2021 Pendapatan

Rp8,000,000 Rp15,000,000
53.33%
Rp3,350,000 Rp11,260,000
29.75%
Rp4,720,000 Rp11,918,000
39.6%
Rp1,050,843,000 Rp1,050,843,000
100%
Rp45,309,618 Rp111,704,874
40.56%
Rp619,245,938 Rp843,658,177
73.4%
Rp215,000,000 Rp215,000,000
100%
Rp45,764,900 Rp45,764,900
100%
Rp2,026,448 Rp4,000,000
50.66%
Rp3,000,000 Rp3,000,000
100%

APBDes 2021 Pembelanjaan

Rp714,423,153 Rp1,069,687,883
66.79%
Rp630,265,812 Rp876,236,648
71.93%
Rp45,125,919 Rp89,991,919
50.14%
Rp131,936,420 Rp169,954,620
77.63%
Rp141,937,200 Rp199,647,300
71.09%